UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru


PONOROGO, DAILYPUBLIK.COM
- Ujian kenaikan tingkat (UKT) Jiu-Jitsu Ponorogo tak berhenti pada penilaian kemampuan dan kenaikan sabuk. Dari 326 siswa yang mengikuti ujian, pengurus mulai memetakan potensi atlet yang diproyeksikan menjadi generasi penerus Jiu-Jitsu Ponorogo.

UKT digelar di Lapangan Nongkodono, Kecamatan Kauman, Ponorogo, 14 September 2026. Agenda ini menjadi bagian dari pembinaan rutin yang dilaksanakan setiap empat bulan atau tiga kali dalam setahun.

Bagi pengurus Institut Ju-Jitsu Indonesia (IJI) Cabang Ponorogo, setiap pelaksanaan UKT menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan siswa sekaligus membaca potensi yang mulai muncul.

Ketua Jiu-Jitsu Kabupaten Ponorogo Muryanto, SIP, yang akrab disapa Mbah Beru, mengatakan proses kenaikan tingkat dapat menjadi salah satu pintu untuk menemukan calon atlet baru.

“Hari ini tahapan kenaikan sabuk, mulai dari putih, kuning hingga hijau. Dari sini nanti kita tahu bibit-bibit atlet yang akan datang sudah mulai kelihatan,” kata Muryanto.

Menurut Muryanto, pembinaan tidak hanya diberikan kepada siswa yang telah memiliki prestasi di arena pertandingan.

Siswa yang belum pernah meraih capaian dalam kompetisi tetap memiliki kesempatan untuk berkembang. Sebab, kemampuan setiap siswa bisa muncul pada waktu dan bidang yang berbeda.

Potensi tersebut kemudian dapat dipetakan melalui berbagai kategori pertandingan yang tersedia dalam Jiu-Jitsu, mulai dari fighting, show system, newaza dan kategori lainnya.

Dengan banyaknya nomor pertandingan, siswa yang belum menonjol di satu kategori masih dapat diarahkan ke nomor yang lebih sesuai dengan karakter dan kemampuannya.

Upaya mencari bibit baru juga ditopang rekam jejak Jiu-Jitsu Ponorogo di tingkat Jawa Timur.

Sekretaris IJI sekaligus PBJI Kabupaten Ponorogo, Supeno, mengatakan Jiu-Jitsu Ponorogo telah dua kali berturut-turut menjadi juara umum Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.

Prestasi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet. Pengalaman bertanding di tingkat provinsi juga menjadi bagian dari jenjang sebelum atlet melangkah ke kompetisi yang lebih tinggi.

Sejumlah atlet asal Ponorogo bahkan telah tampil di tingkat nasional hingga Asia.

“Alhamdulillah, ada dari Jujitsusan Ponorogo yang mewakili di tingkat nasional bahkan ke Asia,” ujar Supeno.

Atlet Jiu-Jitsu Ponorogo juga pernah dipercaya memperkuat Indonesia dalam ajang SEA Games di Kamboja. Dari ajang tersebut, atlet asal Ponorogo berhasil membawa pulang medali.

Supeno menjelaskan, UKT menjadi tolok ukur untuk melihat sejauh mana siswa menguasai materi dan program pembinaan yang diberikan.

Hasil ujian selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengurus untuk melihat perkembangan masing-masing siswa sekaligus memetakan potensi mereka.

“Harapan kami, UKT ini sebagai tolok ukur kemampuan siswa sekaligus mempersiapkan kader untuk berkarier di tingkat regional, nasional maupun internasional,” jelas Supeno.

Karena itu, 326 siswa yang mengikuti UKT tidak hanya dipandang sebagai peserta ujian kenaikan sabuk. Mereka menjadi bagian dari proses panjang regenerasi atlet Jiu-Jitsu Ponorogo.

Pembinaan yang berkelanjutan diharapkan mampu melahirkan nama-nama baru yang meneruskan prestasi para atlet sebelumnya.

Dari lapangan latihan dan ujian kenaikan tingkat inilah, calon atlet masa depan mulai terlihat. Mereka dipersiapkan untuk membawa nama Ponorogo di level Jawa Timur, nasional, hingga internasional. (*)
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru
  • UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru
  • UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru
  • UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru
  • UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru
  • UKT Jiu-Jitsu Ponorogo Jadi Pintu Awal Menjaring Atlet Baru

Posting Komentar