30 Tahun di Balik Meja Birokrasi, Ir. Nyoto Wiyono Masuk Bursa Wabup Ponorogo
![]() |
| Ir. H. Nyoto Wiyono, M.S., Calon Wakil Bupati Ponorogo. (Foto: Dok. Gardajatim.com) |
PONOROGO, DAILYPUBLIK.COM - Nama Ir. H. Nyoto Wiyono mulai muncul dalam bursa calon Wakil Bupati Ponorogo. Setelah lebih dari tiga dekade berkecimpung di pemerintahan, ia kini menawarkan pengalaman birokrasi sebagai bekal untuk ikut menjawab persoalan daerah.
Nyoto disebut tengah menjajaki peluang untuk mendampingi Hj. Lisdyarita, S.H. dalam kontestasi politik di Ponorogo.
Bagi Nyoto, langkah tersebut bukan sekadar upaya mengejar jabatan. Ada alasan pengabdian yang membuatnya ingin kembali mengambil peran dalam pembangunan daerah.
“Ini bukan sekadar mencoba-coba atau mencari keuntungan pribadi. Ada panggilan jiwa untuk mengabdi,” kata Nyoto saat ditemui di kediamannya, Selasa, 8 September 2026.
Pengalaman selama lebih dari 30 tahun di pemerintahan menjadi salah satu modal utama yang ia bawa. Ia pernah menjabat Kepala Bappeda dan terlibat dalam berbagai proses tata kelola pemerintahan.
Pengalaman Birokrasi untuk Menjawab Persoalan Ponorogo
Menurut Nyoto, memahami pemerintahan tidak hanya berkaitan dengan aturan administrasi. Koordinasi lintas instansi dan kemampuan mengawal proses pembangunan juga menjadi bagian penting dalam menyelesaikan persoalan daerah.
Pengalaman tersebut, menurut dia, relevan dengan kondisi Ponorogo yang masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan hukum.
“Pengalaman lebih dari 30 tahun di pemerintahan, termasuk pernah menjadi Kepala Bappeda, tentu memberikan pemahaman tentang bagaimana pemerintahan harus dikelola,” ujarnya.
Ia ingin pengalaman yang dimiliki tidak berhenti sebagai catatan perjalanan birokrasi. Jika nantinya mendapat kepercayaan masyarakat, pengalaman tersebut diharapkan bisa diterjemahkan menjadi langkah konkret.
Nyoto: Wakil Bupati Bukan Pengambil Keputusan Utama
Nyoto juga memiliki pandangan tersendiri mengenai posisi wakil bupati. Menurutnya, wakil kepala daerah harus memahami batas kewenangan sekaligus mampu menjadi pendamping yang efektif bagi bupati.
“Wakil bupati itu pendamping dan pembantu bupati, bukan decision maker,” tegasnya.
Karena itu, jika dipercaya mendampingi Lisdyarita, ia menempatkan hubungan yang solid sebagai salah satu prioritas.
Menurut Nyoto, gesekan antara bupati dan wakil bupati dapat berdampak pada efektivitas pemerintahan.
Sebaliknya, hubungan yang harmonis akan membuat koordinasi dan target pembangunan lebih mudah dijalankan.
“Yang paling penting adalah bagaimana bupati dan wakil bupati bisa solid, tidak ada gesekan, sehingga pemerintahan berjalan kondusif,” katanya.
Beberapa target pembangunan yang menjadi perhatiannya antara lain pertumbuhan ekonomi, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serta peningkatan nilai tukar petani.
Bukan Adu Modal, tetapi Adu Kompetensi
Menuju bursa calon wakil bupati, komunikasi politik mulai dilakukan. Nyoto menyebut komunikasi dengan sejumlah pihak telah dibangun, baik di tingkat daerah maupun pusat.
Namun, ia menilai proses politik seharusnya tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan modal. Kompetensi, pengalaman, dan rekam jejak juga harus menjadi pertimbangan.
“Ini bukan adu modal, tetapi adu kompetensi,” kata Nyoto.
Ia pun terus membangun komunikasi dengan berbagai unsur politik dan jaringan masyarakat sebagai bagian dari proses penjajakan serta penguatan dukungan.
Bagi Nyoto, seorang kandidat harus memiliki rekam jejak, potensi, dan kapabilitas untuk menjawab kebutuhan daerah.
Ring Road dan Rekam Jejak Waduk Bendo
Dalam gagasan pembangunan, Nyoto menyebut pembangunan ring road Ponorogo sebagai salah satu prioritas.
Menurutnya, jalur lingkar tidak hanya berfungsi mengurai kepadatan lalu lintas. Infrastruktur tersebut juga dapat membuka ruang bagi pergerakan ekonomi di berbagai wilayah.
Selain gagasan, ia juga membawa pengalaman konkret selama berada di birokrasi. Salah satunya adalah penyelesaian puluhan persyaratan izin pinjam pakai kawasan hutan untuk proyek Waduk Bendo.
Proses tersebut sempat tertunda selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dapat diselesaikan.
Pengalaman itu, menurut Nyoto, memperlihatkan pentingnya kemampuan administrasi, koordinasi, dan komunikasi lintas instansi dalam mengawal proyek pembangunan.
“Pengalaman birokrasi itu harus bisa memberikan manfaat. Bukan hanya memahami aturan, tetapi bagaimana aturan itu bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan persoalan,” katanya.
Dari Birokrasi hingga Dunia Akademik
Setelah puluhan tahun berada di pemerintahan, Nyoto kini juga aktif sebagai dosen di Universitas Wisnuwardhana Malang.
Aktivitas akademik tersebut menjadi bagian lain dari perjalanannya, khususnya dalam perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia.
Ia melihat pembangunan Ponorogo membutuhkan lebih dari sekadar program. Pengalaman, ketepatan mengambil langkah, serta kemampuan membangun komunikasi dan kerja sama menjadi faktor penting.
Kini, pengalaman lebih dari tiga dekade itu menjadi bekal yang ia tawarkan kepada Ponorogo.
Jika mendapat kepercayaan mendampingi Lisdyarita, Nyoto ingin mendorong pemerintahan yang solid, harmonis, dan fokus menyelesaikan persoalan masyarakat.
Baginya, masuk dalam bursa Wakil Bupati Ponorogo bukan sekadar tentang jabatan. Ia ingin mengabdikan pengalaman yang dimiliki untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan manusia, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Tim/Red)
Baca Juga:

Posting Komentar