Mengapa 22 Juli Diperingati Hari Bhakti Adhyaksa? Ini Sejarah dan Tokoh di Baliknya
JAKARTA (Dailypublik.com) - Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa setiap 22 Juli bukan sekadar seremoni tahunan. Tanggal tersebut menandai momentum penting dalam sejarah penegakan hukum Indonesia, yakni lahirnya Kejaksaan sebagai lembaga yang berdiri mandiri dan terpisah dari Departemen Kehakiman pada 22 Juli 1960.
Momentum itu menjadi tonggak penguatan independensi institusi penuntutan. Sejak saat itu, Kejaksaan memiliki posisi yang lebih tegas dalam sistem peradilan nasional sebagai lembaga penegak hukum.
Penetapan 22 Juli sebagai Hari Bhakti Adhyaksa merujuk pada terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehakiman pada 22 Juli 1960.
Keputusan tersebut memisahkan Kejaksaan dari Departemen Kehakiman sehingga lembaga ini menjalankan tugas dan kewenangannya secara mandiri.
Peristiwa itu dipandang sebagai salah satu babak penting dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia karena memperkuat independensi Kejaksaan sebagai institusi negara.
Mr. R. Gatot Taroenamihardja, Peletak Fondasi Kejaksaan RI
Di balik perjalanan sejarah Kejaksaan Republik Indonesia, nama Mr. R. Gatot Taroenamihardja menempati posisi sentral.
Ia dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Jaksa Agung pertama Republik Indonesia pada 2 September 1945.
Perannya dinilai menjadi fondasi awal bagi lahirnya sistem penuntutan yang independen di Indonesia.
Karena kontribusinya tersebut, Mr. Gatot Taroenamihardja dikenal sebagai peletak batu pertama independensi Kejaksaan.
Istilah Adhyaksa sebenarnya telah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka. Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit, jabatan tersebut dikaitkan dengan Mahapatih Gajah Mada yang menjalankan fungsi sebagai Adhyaksa atau hakim tertinggi.
Jejak sejarah itu kemudian menginspirasi penggunaan nama Adhyaksa sebagai identitas korps Kejaksaan hingga sekarang.
(Fas/red)
Baca Juga:

Posting Komentar